Wanita itu terus berjalan
menyusuri jalan yang beraspal ,orang-orang bersembunyi ditempat yang teduh dari
derasnya hujan, tetapi wanita itu tetap menyusuri jalan beraspal yang tersiram
air hujan. Dia tidak peduli derasnya hujan, tidak peduli hantaman air hujan
ketubuhnya, tidak peduli bisikan orang-orang terhadapnya yang seperti manusia
gila, tidak peduli suara petir yang mengisi backsound alam ini.
Wanita itu menyukai hujan.
Wanita itu tetap menyusuri jalan,
tanpa arah, dengan tatapan kosong. Apa benar-benar dia menyukai hujan ?.
Wanita itu menangis.
Apa benar-benar dia menyukai
hujan ?. Kenapa dia menangis jika dia menyukai hujan ? Apa hujan ini
mengingatkan dia dengan kenangan yang indah ? atau dengan seseorang ?
Wanita itu terjatuh terduduk.
Dan kali ini dia benar-benar
menangis.
Dia sakit, dan tersiksa.
hhhhhhhhhhhhhhhh
Wanita itu menepis tangan lelaki
itu dari tangannya. Wanita itu menatap tajam lelaki itu. “Apa peduli mu hah
?.”Bentaknya. Wanitu lalu membalikan badan dan kembali menyusuri jalan yang
masih tersiram deras hujan.” Aku tak mungkin sakit, karena aku menyukai
hujan.”Teriaknya.
Lelaki itu sudah sangat marah.
Emosi sudah meluap dikepalanya hingga dia menggepalkan kedua tangannya.
Seharian dia mencari wanita itu, seharian juga dia harus rela-rela kehujanan
demi mencari wanita itu, tapi apa yang dia dapat ?. Dia hanya mendapatkan
bentakan dati wanita itu.
“Ya aku tak percaya kalau kau tak
mungkin sakit. Karena kau tak pernah menyadarinya, kalau kau sedang sakit
,bahkan sangat sakit ,dan tersiksa.”Teriak lelaki itu ,sudah habis kesabarannya
menghadapi wanita didepannya, wanita berkepala batu .
Wanita itu berhenti berjalan
setelah mendengar ucapan kalimat dari lelaki itu. Kalimat lelaki itu terus
menhantui pendengarannya. Hatinya terasa sakit saat mendengar kalimat lelaki
itu. Perlahan air mata yang tadi sudah berhenti mengalir, sekarang mengalir
lagi.
Ya
aku tak percaya kalau kau tak mungkin sakit. Karena kau tak pernah
menyadarinya, kalau kau sedang sakit ,bahkan sangat sakit ,dan tersiksa
Wanita itu menggeleng kepalanya,
dan menutup kedua telinganya. Kalimat itu terus menghantui
pendengarannya.Wanita itu membalikan badan menghadap lelaki itu dari jarak yang
jauh.Dan menatap tajam lelakit itu.
Lelaki itu tertegun melihat
tampilan wanita itu, dia baru menyadarinya wanita itu sangat-sangat tersiksa,
seharusnya dia tidak mengeluarkan kalimatnya tadi. Lelaki itu menyesal telah
mengeluarkan kalimat yang seharus tak dikeluarkan.
Wanita itu terus menatap tajam
lelaki itu, tatapan membunuh. “Sudah kubilang apa peduli mu hah ? Kak tau usah
peduli kepadaku, kau hanya seorang pengecut. Yang lari dari masalah. Aku benci
sama kau. Kau seorang pengecut.”
Lelaki itu tertegun setelah
mendengar ucapan wanita itu, dia sangat jelas mendengar kalimat itu. Sekarang
hatinya baru sadar, kalau selama ini dia sangat salah, dia dalang dari semua
ini, dia membuat wanita itu kacau dan tersiksa.
Kau
seorang pengecut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar